From now on we Elev8
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
Pada pembukaan pekan, rupiah masih berada dalam tekanan dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke 17.120,4 (+0,40%). Pada sesi sebelumnya, rupiah sempat menyentuh rekor terlemah di 17.135, menyusul kabar kegagalan perundingan AS-Iran yang memicu gangguan pada jalur energi global di Selat Hormuz.
Meski data Penjualan Ritel domestik yang dirilis hari ini menunjukkan perbaikan, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal, dengan pasar tetap lebih fokus pada lonjakan risiko energi dan implikasinya terhadap dolar AS.
Secara teknis, tren kenaikan dolar tetap terjaga dengan pola higher highs dan higher lows yang konsisten sejak akhir Maret. Level 17.000 kini semakin menguat sebagai pijakan baru, sementara ruang kenaikan masih terbuka menuju kisaran 17.150-17.200 dalam jangka pendek jika momentum berlanjut.
Dari sisi global, pasar kembali dihadapkan pada eskalasi risiko setelah kegagalan negosiasi antara Washington dan Tehran. Ketegangan meningkat menyusul rencana blokade maritim oleh Amerika Serikat terhadap jalur keluar-masuk pelabuhan Iran, termasuk di sekitar Selat Hormuz – jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Situasi ini memicu lonjakan harga energi dan memperkuat daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai.
Lingkungan tersebut membangun ekspektasi bahwa tekanan inflasi global dapat bertahan lebih lama, sehingga memperkuat narasi suku bunga tinggi di AS. Kombinasi ini terus menopang dolar, sekaligus menekan ruang gerak mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Di tengah tekanan eksternal, indikator domestik menunjukkan ketahanan yang relatif terjaga. Penjualan ritel Indonesia pada Februari tumbuh 6,5% secara tahunan, meningkat dari 5,7% sebelumnya. Data ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga yang masih solid dan mampu menjadi penopang aktivitas ekonomi.
Meski demikian, pasar tampak belum sepenuhnya merespons positif data tersebut. Investor cenderung menata ulang portofolio dan menunggu kepastian arah kebijakan global, terutama dari Federal Reserve serta perkembangan di pasar energi.
Di tengah dinamika tersebut, pemerintah juga mulai menjajaki opsi diversifikasi energi. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan mengunjungi Rusia untuk membahas potensi kerja sama, termasuk peluang impor minyak sebagai alternatif pasokan. Langkah ini mencerminkan upaya strategis dalam meredam dampak gangguan energi global.
Perkembangan blokade di jalur energi global akan menentukan arah rupiah selanjutnya. Jika harga minyak tetap tinggi dan ekspektasi suku bunga AS kembali mengeras, rupiah berisiko melanjutkan pelemahan dengan target jangka pendek di atas 17.150.