Kể từ bây giờ chúng tôi là Elev8

Chúng tôi không chỉ là một nhà môi giới. Chúng tôi là một hệ sinh thái giao dịch tất cả trong một—mọi thứ bạn cần để phân tích, giao dịch và phát triển đều có ở một nơi. Sẵn sàng nâng tầm giao dịch của bạn?

Batu Bara ICE Newcastle Tidak Berubah di 133,80, HBA Menuju Penyesuaian Baru

  • Batu Bara ICE Newcastle belum berubah di level ini sejak kemarin.
  • Ada potensi perpanjangan blokade terhadap Iran.
  • Pemerintah Indonesia membahas DME berbasis batu bara kalori rendah untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 133,80 pada saat berita ini ditulis, yang belum berubah dari penutupan hari kemarin. Jika batu bara ini tetap di level, itu akan menjadi dua hari berturut-turut harganya tidak berubah. Meskipun demikian, harganya tetap di atas level-level pra-konflik dan menantikan perkembangan baru yang muncul dari kawasan tersebut.

Batu bara ini tidak menunjukkan perubahan harga pada hari kemarin. Meskipun demikian, komoditas ini mempertahankan rebound setelah sempat jatuh ke level-level pra-konflik di 117,50. Rebound yang sama membuat indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari bangkit dari momentum bearish ke bullish untuk saat ini. Secara teknis, tren komoditas ini juga bullish dalam jangka lebih panjang mengingat posisi harganya yang berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.

Cuaca di pelabuhan Newcastle Australia cerah berawan dengan suhu di sekitar 21°C pada saat berita ini ditulis. Meskipun ada potensi hujan ringan, diprakirakan itu tidak memengaruhi pemuatan batu bara di pelabuhan secara signifikan sehingga jadwal pengiriman tidak terganggu. Dengan demikian, cuaca bisa disingkirkan dari faktor yang dapat memengaruhi harga komoditas ini dalam jangka pendek.

Sebelumnya, Wall Street Journal menyebut bahwa Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memerintahkan para stafnya untuk mempersiapkan perpanjangan blokade terhadap Iran. Trump percaya bahwa jika melanjutkan pengeboman atau menarik diri dari konflik itu menimbulan risiko yang lebih besar dibandingkan dengan menekan ekonomi dan ekspor minyak Iran dengan memblokade pelabuhan-pelabuhannya.

Jika blokade diperpanjang, itu berarti semakin mengaburkan kejelasan kapan Selat Hormuz akan dibuka dengan bebas dan memperpanjang gangguan distribusi minyak dan gas dari Teluk. Keadaan itu membuat harga-harga komoditas tetap tinggi, seperti misalnya minyak West Texas Intermediate yang pada saat berita ini ditulis berada di area $100.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $103,43 naik dari $99,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $77,71 naik dari $72,28
  • Batubara II (4.100 GAR) $52,84 naik dari $49,99
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,30 naik dari $35,23

Harga-harga di atas akan mengalami perubahan saat memasuki bulan baru untuk periode pertama Mei 2026. Melihat harga batu baca ICE Newcastle yang sempat turun ke level-level pra-konflik AS-Israel dengan Iran kemudian rebound dengan tajam, pasar ingin melihat apakah hal tersebut tercermin dalam HBA baru.

Indonesia masih memenuhi sebagian besar kebutuhan akan liquefield petroleum gas (LPG)-nya dari luar negeri karena produksi dalam negeri sebesar 1,6–1,7 juta ton sementara konsumsinya sekitar 8,6 juta ton per tahun. Pemerintah mengungkapkan rencana untuk mengurangi ketergantungan tersebut melalui alternatif subsitusi Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah dan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). Namun demikian, itu masih dalam tahap pembahasan, seperti diinformasikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dikutip dari situs Kementerian ESDM sebelumnya pekan ini.

Terkait masalah energi akibat konflik di Timur Tengah, beliau mengatakan bahwa, "Kita itu ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama adalah kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi, seperti B50. B50 itu akan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E, untuk bensin. Etanol, E20. Itu adalah bagian salah satu strategi".

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

10-y Bond Auction Germany Naik ke 3.08% dari Sebelumnya 2.92%

10-y Bond Auction Germany Naik ke 3.08% dari Sebelumnya 2.92%
Đọc thêm Previous

USD/INR: Risiko uji kembali 95,23 meningkat di tengah tekanan INR – Societe Generale

Para analis Valas Societe Generale membahas hambatan yang terus-menerus bagi Rupee India (INR) terhadap Dolar AS (USD) karena India menghadapi tagihan impor Minyak dan Emas yang besar
Đọc thêm Next